KOLEKSI GAMBAR
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Januari 2012
MODEL KONSEP KURIKULUM TEKNOLOGIS
I. PENGERTIAN KURIKULUM
Ditinjau dari asal katanya, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang mulu-mula digunakan dalam bidang olah raga, yaitu kata currere, yang berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh mulai dari start sampai dengan finish, jarak dari start sampai dengan finishini disebut currere. Atas dasar tersebut kurikulum diterpkan dalam bidang pendidikan.
Kemudian para ahli kurikulum membuat macam-macam batasan tentang kurikulum tersebut, mulai dari pengertian tradisional sampai dengan pengertian modern, mulai dari pengertian yang simple (sederhana) sampai dengan pengertian yang kompleks. Setiap ahli memiliki versi batasan yang berbeda-beda.
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial- emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.[1]
Kurikulum merupakan aktivitas dan kegiatan belajar yang direncanakan, diprogamkan bagi peserta didik di bawah bimbingan sekolah, baik di dalam maupun di luar sekolah. Atas dasar itu secara operasional kurikulum dapat didefinisikan sebagai:[2]
1. Suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang dilaksanakan dari tahun ketahun.
2. Bahan tertulis yang dimaksudkan untuk digunakan oleh guru dalam melaksanakan pengajaran untuk siswa-siswanya.
3. Suatu usaha untuk menyampakan asas dan cirri terpenting dari suatu rencana pendidikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan guru disekolah.
4. Tujuan-tujuan pengajaran, pengalaman belajar, alat-alat belajar dan cara-cara penilaian yang direncanakan dan digunakan dalam pendidikan.
5. Suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujan pendidikan tertentu.[3]
II. PEMBAHASAN
Abad dua puluh ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi mempengaruhi setiap bidang dan aspek kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Dewasa ini sesuai dengan perkembangannya yang digunakan adalah teknologi maju, seperti audio dan video cassette, overhead projector, film slide, dan motion film, mesin pengajaran, computer, CD-rom dan internet.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak dan perangkat keras. Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat, sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga tenologi system.
Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan kepada penggunaan alat-alat teknlogis untuk menunjang efisiensi dan efektvitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-recana penggunaan berbagai alat dan media, juga model-model pengajaran yang banyak melibatkan penggunaan alat. Contoh-contoh model pengajaran tersebut adalah: pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, mesin pengajaran, pengajaran modul, Pengajaran dengan bantuan komputer, dan lain-lain.
Dalam arti teknologi system, teknlogi pendidikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan system. Program pengajaran ini bisa semata-mata program system, bisa program system yang ditunjang dengan alat dan media, dan juga program system yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran.
1. Beberapa ciri kurikulum teknlogis
Kurikulum yang dikembngkan dari knsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus, yaitu:
a) Tujuan. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi\, yang dirumuskan dalam bentuk prilaku.
b) Metode. Metode yang merupakan kegiatan pembelajaran sering dipandang seebagai proses mereaksi terhadap perangsang- perangsang yang diberikan dari apabila terjadi reespons yang diharapkan maka respons tersebut diperkuat. Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah- langkah sebagai berikut.
1. Penegasan tujuan
2. Pelaksanaan pengajaran
3. Pengetahuan tentang hasil
c) Organisasi bahan ajar. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi. Bahan ajar atau kompetensi yang luas/besar dirinci menjadi bagian-bagian atau subkompetensi yang lebih kecil, yang menggambarkan obyektif. Urutan dari obyektif-obyektif ini pada dasarnya menjadi inti organisasi bahan.
d) Evaluasi. Kegiatan evaluasi dilakukan setiap saat pada akhir suatu pelajaran, suatu unit maupun semester. Fungsi evaluasi ini bermacam-macam, sebagai umpan balik bagi siswa dalam evaluasi formatif maupun evaluasi sumatif.
Pengajaran teknologis sangat menekankan efisiensi dan evektivitas. Program dikembangkan melalui beberapa kegiatan uji coba dengan sample-sampel dari populasi yang sesuai, direvisi beberapa kali sampai standart yang diharapkan dapat dicapai. Dengan model pengajaran ini tingkat penguasaan siswa dalam standar konvensional jauh lebih tinggi dibandingkan dengan model lain.
Meskipun memiliki kelebihan-kelebihan, kurikulum teknologis tidak terlepas dari beberapa keterbatasan atau kelemahan. Model ini terbatas kemampuannya untuk mengajarkan bahan ajar yang kompleks atau membutuhkan penguasaan tingkat tinggi (analisis, sintesis,evaluasi) juga bahan-bahan ajar yang bersifat afektif.
III. KONTRIBUSI KURIKULUM TEKNOLOGIS
Pengembangan kurikulum teknologis berpegang pada beberapa criteria, yaitu :
a. prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain.
b. Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang dan hendaknya memberikan hasil yang sama.
Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan pengembangan dan penggunanan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditunjukan pada penguasaan kompetensi tertentu.
Pengembangan kurikulum ini membutuhkan kerja sama dengan para penyusun program dan penerbit media elektronik dan media cetak. Dipihak harus dicegah jangan sampai pengembangan kurikulum ini menjadi objek bisnis. Pengembangan pengajaran yang betul-betul berstruktur dan bersatu dengan alat dan media membutuhkaan biaya yang tidak sedikit.
Pengembangan kurikulum teknologis terutama yang menekankan teknologi alat, perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, formulasi perlu dirumuskan terlebih dahulu apakah pengembangan alat atau media tersebut benar-benar diperlukan. Hal ini menyangkut pasaran. Kedua spesifikasi, diperlukan adanya spesifikasi dari alat atau media yang akan dikembangkan, baik dilihat dari segi kegunaannya maupun ketepatan penggunaanya.
KESIMPULAN
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan daerah. Kompetensi perlu dicapai secara tuntas (belajar tuntas). Kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial- emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak dan perangkat keras. Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat, sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga tenologi system.
DAFTAR PUSTAKA
Subandiah. Pengembangan dan inovasi kurikulum. Jakarta : RajaGrafindo persada. 1996
Sukmadinata, nana Syaodih. Pengembangan Kurikulum : teori dan praktek. Bandung : Remaja rosdakarya. 1997
Senin, 02 Januari 2012
Kurikulum Pendidikan Islam
BAB I
PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Tujuan pendidikan di suatu bangsa atau negara ditentukan oleh falsafah dan pandangan bangsa atau negara tersebut. Begitu pula perubahan politik pemerintahan suatu negara mempengaruhi pula bidang pendidikan, yang selalu membawa perubahan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian, kurikulum senantiasa bersifat dinamis sebagai bentuk penyesuaian dari berbagai perkembangan yang terjadi.
Di dalam realitasnya, pelaksanaan kurikulum terjadi berbagai variasi sesuai dengan landasan dan bentuk pemikiran tertentu serta ruang lingkup yang mendasarinya. Misalnya, kurikulum yang terdapat di dalam pendidikan nasional (Indonesia) secara utuh merupakan bentuk simbolis dari nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Namun, berbeda ketika kita berbicara mengenai kurikulum pendidikan Islam, kita akan menemukan beberapa hal yang itu berbeda dengan apa yang terdapat di dalam kurikulum pendidikan nasional.
Untuk itu, perlu kiranya pada makalah ini kami kemukakan beberapa hal yang berkaitan dengan konsep kurikulum pendidikan islam sebagai bentuk upaya menggali dan menambah khasanah kita sebagai calon pengemban amanah pendidikan islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KURIKULUM
1. Secara Etimologi
Kata “kurikulum” berasal dari Yunani yang semula digunakan dalam bidang olahraga, yaitu currere yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start hingga finish.[1]
Dalam bahasa Arab, istilah “kurikulum” diartikan dengan manhaj, yakni jalan yang terang atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada bidang kehidupannya. Dalam konteks pendidikan, kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap serta nilai-nilai.[2] Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al dirasah) dalam qamus tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[3]
2. Secara Terminologi
Para ahli telah banyak mendefinisikan pengertian kurikulum, diantaranya :
a. M. Arifin memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.[4]
b. Dr. Addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang disitir oleh al-Syaibany, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.[5]
B. PAI atau PENDIDIKAN ISLAM
Tafsir (2004) membedakan antara pendidikan agama islam (PAI) dan pendidikan islam. PAI dibakukan sebagai nama kegiatan mendidikkan agama islam, sebagai mata pelajaran seharusnya dinamakan “agama islam”, karena yang diajarkan adalah agama islam bukan pendidikan agama islam. Nama kegiatannya atau usaha dalam mendidikkan agama islam disebut sebagai pendidikan agama islam. Dalam hal ini PAI sejajar atau sekategori dengan pendidikan matematika (nama mata pelajarannya adalah matematika), pendidikan olah raga (mata pelajarannya adalah olah raga) dan seterusnya.
Sedangkan pendidikan islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang diidealkan. Pendidikan islam ialah pendidikan yang teori-teorinya disusun berdasarkan Alquran dan Hadits.[6] Intinya, pendidikan islam merupakan sistem pendidikan yang diselenggarakan dengan niat mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai islam dalam kegiatan pendidikannya.
C. KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Dalam ilmu pendidikan islam, kurikulum merupakan bahan-bahan ilmu pengetahuan yang diproses di dalam sistem kependidikan islam. Ia juga menjadi salah satu bahan masukan yang mengandung fungsi sebagai alat pencapai tujuan pendidikan islam.
Menurut sifatnya,[7] kurikulum pendidikan islam dipandang sebagai cermin idealitas islam yang tersusun dalam bentuk serangkaian program dan konsep dalam mencapai tujuan pendidikan.
Dengan demikian, kurikulum pendidikan islam mengandung arti sebagai suatu rangkaian program yang mengarahkan kegiatan belajar-mengajar secara terencana, sistematis, dan mencerminkan cita-cita para pendidik sebagai pembawa norma islami.
1. Komponen Kurikulum
a) Menurut al-Syaibany[8] ada 4 komponen utama kurikulum yaitu :
i. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan
ii. Pengetahuan, data-data, kegiatan,informasi
iii. Metode dan Cara mengajar yang dipakai guru
iv. Metode dan Cara penilaian
b) Menurut Ramayulis[9] komponen kurikulum meliputi :
i. Tujuan
ii. Isi Kurikulum
iii. Sarana dan Prasarana
iv. Strategi
v. Proses Pembelajaran
vi. Evaluasi
2. Kerangka Dasar Kurikulum PI
Di dalam Alqur’an dan Hadits ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan islam, yaitu :
a. Tauhid sebagai kerangka dasar utama kurikulum harus dimantapkan sejak masih bayi, dimulai dengan memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau iqomah terhadap anak yang baru dilahirkan.[10]
b. Perintah membaca, terdiri dari tiga macam ayat yaitu : ayat Allah yang berdasarkan wahyu, ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan ayat Allah yang terdapat di alam semesta di luar diri manusia.
3. Dasar Kurikulum PI
a. Dasar agama
b. Dasar falsafah
c. Dasar psikologis
d. Dasar sosial
e. Dasar organisatoris
4. Prinsip Penyusunan Kurikulum PI
a. Prinsip berasaskan islam termasuk ajaran dan nilai-nilainya.
b. Prinsip mengarah pada tujuan adalah seluruh aktifitas dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan sebelumnya.
c. Prinsip (integritas) antara mata pelajaran, pengalaman, dan aktifiti yang terkandung di dalam kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara kandungan kurikulum dengan kebutuhan murid juga kebutuhan masyarakat.
d. Prinsip relevansi adalah adanya kesesuaian pendidikan dengan lingkungan hidup murid, relevansi dengan waktu dan relevansi dengan tuntutan pekerjaan.
e. Prinsip fleksibilitas, adalah terdapat ruang gerak dalam bertindak.
f. Prinsip integritas adalah mampu menghasilkan manusia yang mampu mengintegrasikan dzikir dengan pikir serta kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.
g. Prinsip efisiensi, agar kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, dana, dan sumber lain secara cermat, tepat, memadai dan dapat memenuhi harapan.
h. Prinsip kontinuitas dan kemitraan, susunan kurikulum merupakan bagian yang berkelanjutan dengan kaitan-kaitan kurikulum lainnya.
i. Prinsip individualitas, bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan anak pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik.
j. Prinsip kesamaan memperoleh kesempatan dan demokratis.
k. Prinsip kedinamisan, agar kurikulum tidak statis, tetapi dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial.
l. Prinsip keseimbangan, kurikulum dapat mengembangkan potensi peserta didik secara harmonis.
m. Prinsip efektivitas, agar kurkulum dapat menunjang efektivitas guru dan peserta didik dalam belajar.
5. Orientasi Kurikulum PI
Kurikulum pendidikan islam berorientasi kepada :
a. Orientasi pelestarian nilai
Dalam pandangan islam, nilai terbagi atas dua macam, yaitu : nilai ilahiah (yang turun dari Allah) dan nilai insaniah (yang tumbuh dan berkembang dari peradaban manusia sendiri). Kedua nilai tersebut selanjutnya membentuk norma-norma atau kaidah kehidupan yang dianut oleh masyarakat.
b. Orientasi pada peserta didik
Memberikan kompas pada kurikulum untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang disesuaikan dengan bakat, minat dan potensi yang dimiliki.
c. Orientasi kepada masa depan IPTEK
d. Orientasi pada social demand
Upaya memberikan kontribusi positif dalam perkembangan sosial dan kebutuhannya, sehingga output di lembaga pendidikan mampu menjawab dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
e. Orientasi pada tenaga kerja
f. Orientasi pada penciptaan lapangan kerja
Kemudian, jika semuanya itu diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Dalam hal ini, proses pendidikan islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu pada koseptualisasi manusia paripurna (insan kamil) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan islam.
BAB III
PENUTUP
Kurikulum berarti jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru dengan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap serta nilai-nilai, juga menjadi seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.
Kurikulum pendidikan islam mengandung arti sebagai suatu rangkaian program yang mengarahkan kegiatan belajar-mengajar secara terencana, sistematis, dan mencerminkan cita-cita para pendidik sebagai pembawa norma islami.
Secara umum, karakteristik kurikulum pendidikan islam berdasar pada Alquran dan Hadits, mempunyai tujuan membentuk karakter pribadi muslim yang insan kamil.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara. 2006
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta :RajaGrafindo Persada. 2007
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia. 2008.
Syaibani, Omar Muhammad Al Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan. Hasan Langgulung. Jakarta : Bulan Bintang. 1979.
[1] Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. (Jakarta :RajaGrafindo Persada, 2007), hlm. 1
[2] Syaibani, Omar Muhammad Al Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan. Hasan Langgulung. (Jakarta : Bulan Bintang,1979), hlm.478
[3] Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Kalam Mulia, 2008), hlm.150
[4] Arifin, M. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Bumi Aksara, 2006), hlm. 136
[5] Syaibani, Omar Muhammad Al Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan. Hasan Langgulung. (Jakarta : Bulan Bintang,1979), hlm.485
[6] Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. (Jakarta :RajaGrafindo Persada, 2007), hlm 6
[7] Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Kalam Mulia, 2008), hlm. 136
[8] Syaibani, Omar Muhammad Al Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan. Hasan Langgulung. (Jakarta : Bulan Bintang,1979), hlm.486
[9] Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta : Kalam Mulia, 2008), hlm. 154
[10] Dari Husain bin Ali telah berkata Rasulullah SAW “Barang siapa yang lahir anaknya maka azankan ia pada telinga kanan anak itu, dan iqamahkan ia di telinga kiri anak itu, dan anak itu tidak dimudharatkan oleh jin” (H.R. Ibnu al-Syuni)


10.32
Akhmad Wakhidillah Agung P.