Tulisan ini merupakan hasil observasi saya terhadap problematika pelaksanaan pendidikan Islam. adapun lokasinya saya ambil di SDN Kambinganrejo kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.
I. PENDAHULUAN
Istilah Pendidikan Islam dipergunakan dalam dua hal, yaitu: satu, segenap kegiatan yang dilakukan seseorang atau lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa. Dua, keseluruhan lembaga pendidikan yang mendasarkan segenap program dan kegiatannya atas pandangan dan nilai-nilai Islam. (Muhaimin, 2007)
Terkait dengan ketertinggalan pendidikan Islam ini, menurut Muhaimin dikarenakan oleh terjadinya penyempitan terhadap pemahaman pendidikan Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrawi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dengan kehidupan jasmani.
Namun hingga kini pendidikan Islam masih saja menghadapi permasalahan yang komplek, dari permasalah konseptual-teoritis, hingga persoalan operasional-praktis. Tidak terselesaikannya persoalan ini menjadikan pendidikan Islam tertinggal dengan lembaga pendidikan lainnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sehingga pendidikan Islam terkesan sebagai pendidikan “kelas dua”. Tidak heran jika kemudian banyak dari generasi muslim yang justru menempuh pendidikan di lembaga pendidikan non Islam.
Di dalam makalah ini, kami berikan contoh konkrit pelaksanan pendidikan islam serta permasalahannya yang merupakan hasil dari penelitian lapangan yang kami kemas secara sederhana. Dan untuk selanjutnya, menjadi bahan diskusi bagi kita semua. Semoga bermanfaat. Amien..
II. PEMBAHASAN
A. GAMBARAN UMUM
Lembaga pendidikan ini bernama Sekolah Dasar Negeri Kambinganrejo. Sesuai dengan namanya, sekolah ini terletak di sebuah desa yang bernama Kambinganrejo kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan provinsi Jawa Timur. Kalau di desa lain, ada yang jumlah SD nya lebih dari satu, dua bahkan tiga. Tapi khusus di Desa ini hanya ada satu sekolah dasar dikarenakan wilayah desa ini tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan desa lain.
Bangunan sekolah ini terpisah beberapa meter oleh jalan raya sehingga terbagi menjadi dua area. Area pertama teletak di sebelah utara, terdapat tiga ruang kelas, ruang kepala sekolah, ruang guru, mushalla, ruang UKS, kantin, dan ruang koperasi. Pada bagian depan terdapat halaman yang biasanya digunakan untuk melaksanakan upacara bendera setiap hari senin dan juga kegiatan-kegiatan lain seperti senam pagi dan lain-lain. Pada bagian belakang terdapat lapangan olahraga.
Area kedua terletak di sebelah selatan, berbeda dengan area pertama, di sini hanya terdapat tiga ruang kelas, yang masing-masing ruangannya dibagi lagi menjadi dua tempat untuk kelas paralel. Dan area ini juga berdampingan dengan bangunan Madrasah Ibtidaiyah ”Miftahul ’ulum”.
Di tahun ajaran 2009/2010 tercatat sekitar 206 siswa yang belajar di SD ini, dengan 16 tenaga pengajar dan 3 tenaga pembantu, sekolah ini bisa disebut cukup baik menjadi lembaga pendidikan yang siap mendidik seluruh peserta didik menjadi sosok yang diharapkan bangsa Indonesia umumnya dan orangtua khususnya. Dan yang perlu diperhatikan, bagus tidaknya penilaian seseorang terhadap sebuah lembaga pendidikan, salah satunya berawal dari visi dan misi sekolah tersebut. Adapun visi dan misi dari SDN Kambinganrejo ini sebagai berikut :
v VISI : terbentuknya manusia yang berakhlak, berprestasi, kreatif, dan mandiri.
v MISI : - melaksanakan kegiatan keagamaan
- Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan)
Indikator : - unggul dalam prestasi akademik
- Unggul dalam prestasi non akademik
- Aktif dalam menjalankan ibadah
- Unggul dalam penguasaan Iptek
- Mendapat kepercayaan masyarakat
Tujuan : - dapat mengamalkan ajaran islam dengan baik
- Meraih prestasi akademik maupun non akademik
- Menjadikan anak kreatif dan mandiri
- Menjadikan sekolah yang diminati masyarakat[1]
B. PELAKSANAAN
Pendidikan islam adalah nama sistem, yaitu sistem pendidikan yang islami, yang memiliki komponen-komponen yang secara keseluruhan mendukung terwujudnya sosok muslim yang diidealkan. Pendidikan islam ialah pendidikan yang teori-teorinya disusun berdasarkan Alquran dan Hadits.[2] Intinya, pendidikan islam merupakan sistem pendidikan yang diselenggarakan dengan niat mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai islam dalam kegiatan pendidikannya.
Di dalam penerapannya, pendidikan islam menyebar dalam dua bentuk kategori, yaitu sebagai unsur materi dan sebagai unsur operasional.
Unsur materi terlihat pada penggunaan istilah Pendidikan Agama Islam (PAI), PAI dibakukan sebagai nama kegiatan mendidikkan agama islam, sebagai mata pelajaran seharusnya dinamakan “agama islam”, karena yang diajarkan adalah agama islam bukan pendidikan agama islam. Nama kegiatannya atau usaha dalam mendidikkan agama islam disebut sebagai pendidikan agama islam. Dalam hal ini PAI sejajar atau sekategori dengan pendidikan matematika (nama mata pelajarannya adalah matematika), pendidikan olah raga (mata pelajarannya adalah olah raga) dan seterusnya.
Unsur operasional lebih ditekankan pada proses perwujudan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, pengertian Pendidikan Islam lebih luas daripada PAI. Hal inilah yang menjadikan pendidikan islam harus diutamakan keberadaannya dari yang lain.
Adapun berdasarkan penelitian, meskipun ini hanya sebuah sekolah dasar negeri, ternyata pihak sekolah benar-benar berusaha menerapkan tidak hanya sebatas pada mata pelajaran PAI, namun lebih daripada itu mereka berusaha menjadikan lingkungan di sekolah tersebut untuk condong kepada penerapan nilai-nilai Islam. Di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Penggunaan jilbab bagi murid perempuan
Sejak awal berdirinya sekolah ini, sebenarnya belum ada peraturan yang menetapkan penggunaan jilbab bagi murid perempuan ketika di sekolah. Baru pada tahun 2005, atas inisiatif salah seorang guru yang bernama Umi Kulsum, S.Pd[3], yang awalnya sekedar iseng mengajak sesama guru untuk memakai jilbab ketika mengajar, maklum dikarenakan ini adalah sekolah dasar negeri, maka guru-gurunya pun banyak yang berasal dari pendidikan umum sehingga banyak guru perempuan yang tidak berjilbab.
Ternyata, ajakan itu mendapat respon baik. Sehingga dibuatlah kesepakatan sesama guru untuk selalu memakai jilbab pada saat berada di lingkungan sekolah. Kemudian, hal ini menjadi perhatian serius yang pada akhirnya pemakaian jilbab juga diterapkan kepada murid perempuan yang ada di sekolah tersebut.
Anjuran memakai jilbab hanya diwajibkan kepada murid yang sudah menempati kelas IV sampai dengan kelas VI, dan sunnah bagi yang masih kelas I sampai dengan kelas III. Peraturan ini ternyata menjadi kebanggan, dikarenakan menjadi sekolah pertama yang berhasil mempelopori penggunaan jilbab di SD Negeri tingkat kecamatan.
2. Pelaksanaan shalat dluha
Pembiasaan shalat dluha sejak dini perlu dilakukan, di SD ini pelaksanaan shalat tersebut dilakukan satu minggu sekali secara bergantian tiap-tiap kelas dalam hari yang berbeda. Dilakukan sebelum jam pertama.
3. Pengadaan kaleng jum’at
Menjelang jam pertama berakhir, guru wali kelas menyerahkan kaleng kepada ketua kelas untuk dikelilingkan pada murid. Maksudnya, para murid dipersilahkan memberikan sumbangan berupa uang seikhlasnya, sering disebut dengan istilah jariyah jum’at atau kaleng jum’at.
4. Mengadakan kegiatan pondok ramadlon
Kegiatan ini dikhususkan bagi kelas IV – VI. Bentuk kegiatannya mirip selayaknya pesantren kilat, dimana seluruh murid diharuskan menginap di sekolah dan harus mengikuti kegiatan-kegiatan, di antaranya : shalat terawih berjamaah, tadarus Alqur’an, pengajian agama dan sebagainya.
5. Bakti sosial
Sebagai perwujudan adanya kaleng jum’at, kemudian para murid dilatih menjadi manusia yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi dengan secara langsung membantu masyarakat di sekitar sekolah yang membutuhkan bantuan. Misalnya, menjenguk murid atau wali murid yang sakit, memberikan bantuan jika ada yang terkena musibah dan sebagainya.
C. PERMASALAHAN
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa pelaksanaan pendidikan di SD ini tidak sebatas pada mata pelajaran PAI saja, melainkan juga pada aspek penerapan yang memang dianggap sangat penting sebagai bentuk pengamalan.
Namun, ternyata ini bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Terbukti muncul beberapa masalah dari penerapan pendidikan islam tersebut, di antaranya sebagai berikut :
1. Penggunaan jilbab, tidak sedikit dari wali murid yang mengeluhkan bahwa dengan penggunaan jilbab ini telah menambah biaya pengeluaran dalam bersekolah. Alasannya, jilbab sekarang tidak yang murah.
2. Pelaksanaan shalat dluha, lebih jelas muncul dari pihak sekolah sendiri. Mushalla yang ada, ternyata tidak cukup dan kurang nyaman jika digunakan untuk shalat, terlebih juga bangunannya pun sudah kelihatan rapuh. Ini dikhawatirkan mushalla tersebut roboh dan menimpa yang ada di dalamnya.
3. Pengadaan kaleng jum’at, hal ini juga dirasa agak berat ketika ini telah dibiasakan, ternyata membawa dampak bagi psikologis murid yang ketika waktunya kaleng jum’at tidak membawa uang atau bahkan tidak mempunyai uang. Bahkan menjadikan murid yang tidak mempunyai uang cukup (hanya uang jajan) merasa malu pada yang lain. Sehingga pernah terjadi Cuma gara-gara tidak punya uang untuk jariyah jum’at, si murid lantas tidak mau pergi ke sekolah.
4. Pondok ramadlon, terkadang menjadi wahana bagi murid untuk bermain-main tengah malam, akibatnya waktu istirahat terbuang dan ketika akan shalat subuh menjadi sulit untuk di bangunkan.
5. Bakti sosial yang dilakukan ternyata belum menyeluruh. Hal ini dikarenakan data yang kurang lengkap dan juga hasil sumbangan murid dan donatur tidak terlalu banyak. Dikhawatirkan muncul kecemburuan sosial bagi masyarakat.
D. SARAN-SARAN PEMECAHAN
Mencermati kenyatan tersebut, maka mau tidak mau persoalan konsep dualisme-dikotomik pendidikan harus segera ditumbangkan dan dituntaskan, baik pada tingkatan filosofis-paradigmatik maupun teknis departementel. Pemikiran filosofis menjadi sangat penting, karena pemikiran ini nanti akan memberikan suatu pandangan dunia yang menjadi landasan idiologis dan moral bagi pendidikan.[4]
Pemisahan antar ilmu dan agama hendaknya segera dihentikan dan menjadi sebuah upaya penyatuan keduanya dalam satu sistem pendidikan integralistik. Namun persoalan integrasi ilmu dan agama dalam satu sistem pendidikan ini bukanlah suatu persoalan yang mudah, melainkan harus atas dasar pemikiran filosofis yang kuat, sehingga tidak terkesan hanya sekedar tambal sulam.
Masyarakat saat ini adalah masyarakat materialis yang dapat dibina dengan menggunakan suatu mesin raksasa yang bernama teknostrutur. Di sini ada satu link yang hilang, yaitu spiritualisme. Dengan demikian, pendidikan sebagai produksi sistem ini haruslah mengembangkan seluruh aspek dari manusia dan masyarakat sesuai dengan fitrah Islam, yaitu tauhid.
Beralih pada permasalahan yang terjadi di SD Negeri Kambinganrejo, ada beberapa saran dari kami :
- Untuk meminimalisir biaya pendidikan, seharusnya pihak sekolah menyediakan jilbab bersubsidi (jilbab murah dari harga pasar) dan juga menyediakan beasiswa bagi murid yang tidak mampu dan berprestasi.
- Mushalla segera direnovasi agar tercipta rasa aman dan nyaman dalam melaksanakan shalat, kalau perlu minta sumbangan pada wali murid dengan melalui komite sekolah.
- Guru memberikan pengertian kepada wali murid dan khususnya murid bahwa kegiatan kaleng jum’at sifatnya sunnah, dan wajib bagi bagi yang mampu. Sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial.
- Harus ada kontrol penuh dalam seluruh kegiatan pondok romadlon, dan juga harus tetap melibatkan wali murid dikarenakan murid masih terlalu kecil untuk dilepas dalam kegiatan malam.
- Harus dilakukan pendataan yang tepat dalam baksos, sehingga tidak terjadi kecemburuan sosial.
III. PENUTUP
Dari berbagai persoalan pendidikan Islam di SD Kambinganrejo, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum problematika pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
- Kurangnya respon pendidikan Islam terhadap realitas sosial sehingga peserta didik jauh dari lingkungan sosio-kultural mereka. Pada saat mereka lulus dari lembaga pendidikan Islam merka akan mengalami social-shock.
- Penanganan terhadap masalah ini hanya sepotong-potong, tidak integral dan komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta :RajaGrafindo Persada. 2007
Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia. 2008.
Syaibani, Omar Muhammad Al Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan. Hasan Langgulung. Jakarta : Bulan Bintang. 1979.
[1] Dikutip dari arsip dan dokumen SD NEGERI Kambinganrejo, juga terpampang pada salah satu dinding bagian luar SD tersebut.
[2] Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi. (Jakarta :RajaGrafindo Persada, 2007), hlm 6
[3] Beliau adalah guru SDN Kambinganrejo , saat ini menjabat sebagai bendahara sekolah sekaligus wali kelas di kelas VI. Beliau juga termasuk guru berprestasi, pernah meraih penghargaan sebagai guru teladan baik di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi.
[4] Syaibani, Omar Muhammad Al Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terjemahan. Hasan Langgulung. (Jakarta : Bulan Bintang,1979), hlm.478


23.02
Akhmad Wakhidillah Agung P.
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar