Selasa, 03 Januari 2012

Tragedi Marwa Al-Sharbini dan Sulitnya Jadi Minoritas

 
Tak mudah menjadi orang yang beda di dalam satu komunitas, apalagi perbedaan itu adalah masalah keyakinan dan agama. Ini yang dialami oleh Marwa Al-Sharbini di Jerman, negara dengan minoritas penduduk muslim.
Marwa Al-Sharbini, orang Mesir yang lahir di Alexandria, 7 Oktober 1977, bersama suaminya, Alwi Ali Okaz mengadu nasib di Jerman tahun 2005. Marwa bekerja sebagai apoteker (pharmacist) di University Hospital Dresden dan di beberapa apotik di Dresden. Sementara Alwi menjadi ilmuwan dan peneliti di Max Planck Institute for Molecular Cell Biology and Genetics.
Sebagaimana pasangan muda lainnya, Marwa dan Alwi sebagai suami-istri memiliki cita-cita mulia, bekerja dan mencari uang untuk keluarga, menjadikan rumah sebagai tempat yang sakinah, mawaddah wa rahmah dan membesarkan anak dalam kehidupan yang Islami. Bersama muslim lainnya di Dresden, Marwa dan Alwi juga mendirikan sebuah LSM yang bertujuan mengembangkan pendidikan dan kebudayaan Islam di Jerman.
Cita-cita mulia itu kandas sejak Marwa bertemu dengan Alex W. di bulan Agustus 2008, tetangga yang kerap melecehkannya karena memakai jilbab. Ia sering diteriaki sebagai teroris ketika bertemu dengan laki-laki yang lahir di Rusia ini. Karena merasa terancam, Marwa melaporkannya pada kantor polisi setempat. Alex ditangkap dan di sidang di pengadilan negeri Dresden, ia juga diancam hukuman denda sebesar 780 Euro.
Persidangan yang alot, oleh jaksa penuntut umum Marwa sempat dituduhkan sebagai Xenophobia, orang yang takut pada keramaian. Sampai pada sidang di hari Rabu, 1 Juli 2009, ketika Marwa bersaksi atas tindakan Alex, pria yang tak suka dengan Marwa ini mendekati istri Alwi yang tengah hamil 3 bulan, kehamilan anak kedua, lantas menusuknya hingga 18 tusukan. Alwi yang mencoba menolong istrinya malah tertembak oleh petugas pengadilan, peluru itu menembus hingga paru-paru dan ia luka parah. Petugas itu mengatakan salah tembak untuk melerai dan kini tengah dalam penahanan.
Di hari itu, Rabu, 1 Juli 2009, Marwa menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan Alwi dan Mustafa, anak pertama mereka. Marwa meninggal dunia bersama anak yang belum dilahirkannya.
Kejadian ini mengejutkan dunia Islam. Banyak yang geram, tak sedikit yang marah atas tindakan sewenang-wenang Alex pada Marwa. Belum lagi pemerintah Jerman terkesan menutup-nutupi kasus ini. Tragedi satir bermula dari tuduhan dan hinaan sebagai teroris sampai Marwa meninggal, kasus ini menjadi kasus dunia hingga ke tingkat solidaritas antar agama.
Stephan Kramer, Sekjen Lembaga Organisasi Yahudi Jerman (Zentralrat der Juden in Deutschland) mengatakan bahwa masalah ini adalah masalah kemanusiaan yang pelik, di mana sulit untuk menjadi minoritas yang menjalankan kepercayaannya di negara seperti Jerman. Beberapa politisi Jerman meminta pemerintahnya mengusut tegas meski dalam perkembangannya, tragedi Marwa tetap memprihatinkan dan pemerintah Jerman belum berbuat banyak dalam hal penanganan.
Di Mesir dan negara-negara Islam lainnya sendiri, dukungan terhadap Marwa merebak, demonstrasi menuntut atas ketidakadilan yang dialami oleh umat Islam di negara barat ini harus diadili tuntas. Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad juga menulis surat ke PBB atas ketidakadilan ini. Apapun adanya, memang sulit menjadi minoritas di sebuah komunitas dan tatanan yang sudah terbentu.
SEBUAH ANALISA
Setelah mengetahui artikel di atas, perlu kiranya ini menjadi renungan besar bagi umat islam di seluruh dunia. Tidak ada kelemahan sehingga kelemahan itu tertutup oleh sedikit kelebihan, dan tidak ada kelebihan sehingga kelebihan itu tertutup oleh sedikit kelemahan, itu hanya ada dalam dua kondisi, SADAR atau TIDAK SADAR KAH anda,,??
Marwa adalah salah satu contoh dari jutaan umat islam yang tinggal dalam sebuah kubangan minoritas, hidup dengan lingkungan yang tak sepenuhnya memihak, tidak tahu kapan kawan menjadi lawan, tapi dia tetap berusaha istiqamah badan maupun lisan, meskipun aral yang menerjang tak kunjung berhenti.
Dalam sebuah Negara maju seperti jerman, saya kira tetap ada kata HUKUM baginya. Tetap ada usaha untuk melakukan penertiban dari setiap pelanggaran, tetapi yang perlu dipertanyakan adalah :
-          Siapa yang membuat hukum,,??
-          Siapa yang melakukan penertiban,,??
-          Siapa yang melanggar,,??
Sebenarnya pertanyaan ini bisa menjadi sebuah kekuatan, tetapi di lain sisi itu malah menjadi kelemahan besar bagi sebuah hukum.
Jerman adalah negara yang penuh peraturan dan dunia pun tahu bahwa jerman termasuk negara yang keras dan tegas terhadap segala bentuk pelanggaran hukum. Dalam pemberian hukuman, juga dikenal sangat sadis dan kejam. Tetapi, setelah muncul kasus dan tragedi Marwa Al-Sharbini, hukum di Jerman seakan mati tanpa melakukan penindakan tegas. Meskipun KATANYA telah banyak politisi jerman yang meminta kasus ini diusut tegas, tapi hasilnya NIHIL.
Andai marwa itu bukan seorang muslimah, apakah hukum di Jerman tetap bersikap dingin terhadap kasus yang menimpanya,,??
Inilah kenapa di awal saya telah menyebutkan “ketiga pertanyaan inti” di atas menjadi sebuah kekuatan ataukah kelemahan. Kita akan tahu, jika dalam diri selalu berusaha hidup dalam sebuah kesadaran.

3 komentar:

Andaluz Pupuz mengatakan...

Terkadang niat baik memang tidak selamanya memberikan hasil yang baik pula. Tapi Allah telah mencatat niat baik mereka di sisi-Nya.
Jerman merupakan negara yang menjunjung tinggi hukum. Ketika saya membaca teks "Belum lagi pemerintah Jerman terkesan menutup-nutupi kasus ini. Tragedi satir bermula dari tuduhan dan hinaan sebagai teroris sampai Marwa meninggal, kasus ini menjadi kasus dunia hingga ke tingkat solidaritas antar agama". Kekuatan hukum di Jerman seolah hanyalah hiasan dinding semata, sampai pemerintah jerman sendiri menutup-nutupi kasus ini. Konflik ini tidak bisa dibiarkan saja, tapi harus diselesaikan secara hukum. Jika Jerman memang benar menjunjung tinggi hukumnya, maka tegakkanlah hukum itu. Sebagai Muslim, tentunya kita yang membaca berita ini turut berduka. Di mana, disaat niat baik Marwa dan keluarganya untuk mendirikan LSM dan bertujuan mengembangkan Pendidikan dan Kebudayaan Islam harus berakhir dengan cara yang tidak sehat. Alex, yang dikenal sebagai tetangga Marwa, beliau dihina ketika keluar rumah mengenakan kerudung atau jilbab untuk menutup auratnya. Di dalam Islam, jilbab bukanlah pernak pernik, tapi mempunyai esensi yang sama dengan pakaian. Yakni menutupi seluruh auratnya kecuali telapak tangan dan muka. Di saat alex berteriak diduga Marwa adalah teroris, ini merupakan alasan yang tidak etis, tidak rasional.
Di sinilah sebebarnya Pluralisme Agama di gunakan. Inti dari Pluralisme Agama menurut saya adalah menciptakan kedamaian, kerukunan, dan saling menghormati antar keyakinan.
Di dalam Pluralisme Agama ada lima penganut:
1). Eksklusif, yakni mereka memandang agamnya paling benar. sementara agama yang lain salah.
2). Inklusif, yakni mereka meyakini agamanya paling benar. Tapi ada juga nilai-nilai kebaikan di agama lain.
3). Pluralis, yakni agama itu cukup diyakini, tetapi jangan dibanding-bandingkan.
4). Eklektif, yakni mencampur-adukkan agama. Antara agama satu dengan lainnya.
5). Universalis, yakni semua agama itu benar, hanya saja jalannya berbeda-beda.
Sekali lagi, jika memang Jerman benar-benar menjunjung tinggi hukum di negaranya, maka junjunglah dan tegakkan keadilan.
Agar tidak menjadi, atau menambah masalah yang lebih besar.

Unknown mengatakan...

Belum tahu kisahya pak

Akhmad Wakhidillah Agung P. mengatakan...

Baca lagi dg teliti zak,, ntar pasti tau

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Akhmad Wakhidillah Agung P. | Berotak London, Berhati Masjidil Haram, Berkepribadian Nusantara |